Di sini saya akan membandingkan korvet milik TNI AL dengan milik AL negara tetangga terdekat yaitu Singapura dan Malaysia, siapa yang lebih unggul jawablah sendiri…

Korvet kelas SIGMA (TNI AL)

Korvet klas SIGMAKorvet klas SIGMA

Spesifikasi:

Berat 1700 ton

Dimensi (m) 90,71 x 13,02 x 3,60

Kecepatan Max 28 knot

Jelajah 3000 mil pada 18 knot

Awak 80 orang

Senjata:

SSM Exocet blok II

SAM 2 x TETRAL

Meriam OTOMELARA super rapid 76 mm

2 x Denel 20mm

Torpedo 2 x B515

Countermeasures 2 x SKWS

ESM dan ECM

Korvet Klas LAKSAMANA (RMN, Royal Malaysian Navy)

Kovet Klas Laksamana RMNKovet Klas Laksamana RMN

Spesifikasi :

Dimensi (m) panjang 62,3 lebar 9,3

Berat 650 ton

Awak 56 orang

Max speed 36 knots

Jelajah 2300 nm pada 18 knots

Senjata:

SSM Otomat mark 2

SAM (Shorad) Aspide

Meriam Otomelara Super Rapid 76 mm

Multi purpose cannon 40mm L70 twin gun OTOBREDA

Torpedo ILAS-3 (A244/s)

ESM dan ECM

NBC protected

Korvet Klas VICTORY (RSN, Republic Singapore Navy)

Victory class RSNVictory class RSN

Spesifikasi:

Dimensi (m) panjang 62 m, beam 8,5m, tinggi 3,1m

Berat 600 ton

Crew 46 orang

Speed 30 knot

Persenjataan:

SSM 8 x Harpoon

SAM VLS 16x Rafael Barak

Gun 1 x 76mm OTOMELARA Super Rapid

Multipurpose 2 x triple 12,7mm

ECM dan ESM

Iklan

Archer FH77 BW L52 Self-Propelled Howitzer, Sweden

SPH Archer 155 mm

SPH Archer 155 mm

Spesifikasi : Panjang 14,1 m Lebar 3 m Tinggi 3,3 m Berat 33.500 kg Senjata Utama 155 mm , 52 calibre Senjata pendukung Grenade Launcher atau GPMG 7,62 mm Kendaraan Volvo A 30 D 6×6 Buatan BAE system Bofors Swedia Jarak Tembak dg Amunisi Biasa 40 km Jarak Tembak dg Excalibur 60 km Fire Rate 75 Round/ hour Crew 3 – 4 orang Excalibur ShellExcalibur Shell

Atmos 2000 155mm Self-Propelled Artillery System, Israel

Atmos 155 mm

Atmos 155 mm

Spesifikasi: Buatan Soltam System, Haifa, Israel Crew 4 – 6 orang Berat 22.000 kg Panjang 9,5 m Lebar 2,5 m Senjata Utama 155 mm, 52 cal. Jarak tembak max 41.000 m Amunisi 155mm NATO Jumlah amunisi dibawa 27 projectiles Kendaraan Tatra 6×6 Caesar 155mm Self-Propelled Artillery System, France Caesar 155 mmCaesar 155 mm

Spesifikasi: Buatan Nexter System (GIAT) Prancis Jumlah crew 6 orang termasuk supir Panjang 10 m Lebar 2,5 m Tinggi waktu berjalan 3,26 m Berat tempur 18.500 kg Kendaran Daimler Benz Unimog 6×6 atau Sherpa 5 6×6 Rate of fire 6-8/min Jarak tembak max 40 km

SURABAYA – Kapal Perang RI (KRI) Kupang-582 dari Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) bocor dan hampir tenggelam karena dihantam ombak besar di perairan barat Surabaya.Kadispen Koarmatim, Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful di Surabaya, Minggu menjelaskan, kapal yang membawa 26 ABK dengan komandan Kapten Laut (P) Suyadi itu sebetulnya hendak membantu mengevakuasi nelayan yang perahunya tenggelam.”Namun, belum sampai di lokasi tempat nelayan asal Gresik bernama Khoirul Huda itu hendak diselamatkan, kapal dihantam ombak dan arus dari arah depan sangat deras sehingga pintu depan tempat untuk menurunkan barang bocor dan kapal kemasukan air,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kapal itu berangkat dari Koarmatim, Surabaya, Sabtu (7/2) sekitar pukul 17.00 WIB. Karena kejadiannya pada malam hari, ABK kapal itu kesulitan melakukan perbaikan. Komandan kapal kemudian mengirimkan berita lewat radio ke kapal perang lainnya.

“Saat itu ada KRI Slamet Riyadi yang sedang menuju Surabaya menerima pesan berita tersebut. Maka sekitar pukul 04.30 WIB, 26 ABK KRI Kupang beserta dokumen dan senjata berhasil dievakuasi ke KRI Slamet Riyadi,” katanya.

Sumber : ANTARA

Berita di atas tentunya membuat kita prihatin, di saat peralatan milik TNI AL tersebut dibutuhkan untuk menolong nelayan yang tertimpa musibah malah kapal penolongnya justru terkena musibah juga.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anggaran pertahanan kita selama bertahun-tahun tidak mencukupi untuk mewujudkan postur pertahanan yang ideal dan hal itu hingga saat ini belum dilaksanakan bahkan di tahun 2008 kemarin anggaran yang sudah sangat mepet tersebut terkena pemotongan anggaran. Akibatnya adalah makin lama peralatan persenjataan dan alat-alat pendukung prajurit kita lama melaksanakan tugasnya di lapangan makin tidak memadai baik dari segi umur, kualitas maupun kuantitasnya. Dan akhirnya prajurit juga yang menjadi korban akibat alutsista yang diawakinya tua dan tidak terawat karena tiadanya anggaran yang memadai.

LST

Memang akhir-akhir ini ada penambahan alutsista baru, tapi itu semua sekedar untuk menggatikan peralatan lama yang telah usang dan artinya tidak menambah unsur kekuatan pertahanan kita.

Untuk itu saya mengetuk hati pemerintah dan wakil rakyat untuk mulai serius memperhatikan anggaran pertahanan kita, kita sebagai bangsa sudah sering dilecehkan oleh negara lain dengan berani mengklaim wilayah kita sebagai wilayahnya karena mereka tahu kekuatan kita. Sudah banyak prajurit-prajurit kita yang terlatih baik gugur karena kecelakaan alutsista yang tua dan tidak memadai.

Sudahi kata-kata “Indonesia tidak akan perang dalam 10 tahun ke depan” dan” buat apa alutsista yang baik karena untuk mengupas bawang kita tidak perlu silet” dan kata-kata lain yang merendahkan kemampuan negara lain terhadap kita tetapi pada kenyataannya kita sudah tertinggal jauh terhadap mereka.

Jayalah Indonesiaku, Kuatlah TNI ku….

Komentar hari ini:

Februari 8, 2009

Selalu berfikir positif dan mengharap yang terbaik akan menghasilkan yang terbaik bagi diri kita.